Tuesday, 2 February 2016

Sejarah Tugu Yogyakarta



Sejarah Tugu Yogyakarta

http://www.sewamobiljogja.info/wp-content/uploads/2015/03/Tugu-Jogja-Yogyakarta-jogja.jpg
Tugu Yogyakarta merupakan symbolik kota Yogyakarta. Sebagai cirikhas kota Yogyakarta bangunan ini mempunyai sejarah yang panjang dan menarik.  Tugu ini merupakan sebuah bangunan monumen bersejarah yang terletak  tepat di tengah perempatan antara Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan A.M. Sangaji serta Jalan Diponegoro dan sudah berusia hampir tiga abad.
Selain sebagai simbol dari kota Yogyakarta, tugu ini juga mempunyai satu poros imajiner antara Laut Selatan, Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.
Menurut sejarah Tugu Yogyakarta dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pada awalnya, tugu ini berbentuk Golong-Gilig dan mempunyai tinggi mencapai 25 meter, dimana tiang dari tugu ini berbentuk Gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk Golong (bulat), sehingga pada masa itu tugu ini disebut dengan nama Tugu Golong-Gilig. Pada awal dibangunnya tugu ini mempunyai makna Manunggaling Kawula Gusti yang menggambarkan semangat persatuan antara rakyat dan penguasa dalam melawan penjajah. Namun di sisi lain juga bisa bermakna sebagai hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.
Mengacu catatan sejarah Pada tanggal 10 Juni 1867 terjadi gempa hebat di Jogjakarta dan mengakibatkan runtuhnya bangunan tugu Golong Gilig.Pada tahun 1889, keadaan Tugu benar-benar berubah, saat pemerintah Belanda merenovasi seluruh bangunan tugu. Kala itu Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Tidak hanya itu saja, tinggi bangunan yang awalnya mencapai 25 meter pun dibuat hanya setinggi limabelas meter. Tugu ini kemudian diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada tanggal 3 Oktober 1889. Semenjak itu, tugu ini disebut dengan nama De Witt Paal atau Tugu Putih.
Pada area sekitar Tugu Jogja saat ini dibuat taman cantik yang banyak digunakan untuk berfoto oleh pengunjung



Tugu Parameswara, Sejarah Rumpun Melayu Palembang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNfJuOYW-vd7yRrAn99zsApjpx3lGJecJg8o11MMpf2rwIe6rq02OrWilswn8lxJh_ETOLg_eReBkf23azKzf5NttxYY34qrFib-KftivUVmlanug0ab9cj1N6QU8BWKQ9f1XdDon6aUM/s1600/Parameswara.jpg

Tugu Selamat Datang di Jakabaring Sport City
Jika anda hendak memasuki  kawasan Jakabaring Sport Cuty Palembang tepatnya memasuki Stadion Gelora Sriwijaya, anda pasti akan melalui bundaran Tugu Parameswara. Tugu ini berbentuk pelepah daun pisang. Diambilnya pelepha daun pisang ini lantaran hampir di setiap di daerah di Sumatera, selain di pesisir maupun di pegunungan selalu ditemukan pohon pisang. Tugu Parameswara ini adalah sebuah karya seni yang dibuat untuk menyambut PON 2004 lalu. Awal mula gagasan untuk membangun tugu Parameswara, menurut Budayawan Sumsel Djohan Hanafiah, adalah untuk menunjukkan Palembang sebagai simbol pemersatu rumpun Melayu di Nusantara. Pasalnya, hampir  semua orang Melayu yang ada di Nusantara, khususnya di Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, dan Brunei berasal dari Palembang. Mereka semua keturunan dari Parameswara dan pengikutnya, seorang panglima dari Palembang. Foto ini saya ambil ketika saya melintas di kawasan tersebut pada saat menuju studio televisi lokal di Pamulutan, Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.


Sejarah Rumpun Melayu di Palembang
Menurut sejarah, berkisar pada
abad ke-14, Majapahit menyerang Palembang setelah kerajaan Sriwijaya melemah. Salah satu pangeran dan panglima perang di Palembang yakni Parameswara tidak mau tunduk kepada Majapahit. Kemudian Parameswara meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik, Singapura. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka di semenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Selama bulan puasa ini, bundaran tugu ini menjadi tempat berkumpulnya para remaja dan warga sekitar dalam menyambut sahur atau menyambut saat berbuka puasa. Tugu Parameswara yang berada di kawasan Jakabaring Sport City ini sengaja dibuat untuk memperindah kota Palembang.

No comments:

Post a Comment